Catatan di Akhir Ramadhan 1428 H

Written by temukonco on Rabu, 10 Oktober, 2007 – 1:44 pm

Ramadhan sudah mau berakhir, dan hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya ada saja hal-hal yang menurut saya lucu yang terjadi di masyarakat.

Kejadian-kejadian yang sempat saya amati dan masih teringat antara lain:

1. Pertanyaan-pertanyaan yang sama seputar ibadah puasa yang selalu berulang-ulang setiap tahunnya.

Memang tidak salah sih ada pertanyaan-pertanyaan yang sama seputar hal tersebut, akan tetapi karena isi dari pertanyaan yang lumayan “naif dan lucu”, maka ini menyadarkan bahwa, ternyata sampai sekarang ini pendidikan mengenai agama –khususnya puasa– benar-benar belum mencapai sasaran yang diharapkan.

Contoh pertanyaan yang sering saya dengar, antara lain:

“Bu Ustadzah, kalau misalnya kita buang angin ketika berenang, puasanya batal endak ya?”

Karena ketika buang angin di kolam renang, kan keluar gelembung-gelembung airnya, mungkin dikira akan ada air yang masuk ke tubuh bersamaan dengan proses tersebut, jadi karena sudah ada air yang masuk ditubuh, maka si penanya ini takut puasanya akan batal.

Ada juga pertanyaan lain ini:

“Pak Ustadz, kalo di-infus itu membatalkan puasa tidak?”

Tentu saja dengan senyum simpul Pak Ustadz yang sabar dan tidak pernah memasang tarif jika ada yang ingin mengundangnya untuk memberikan ceramah itu, memberikan pengertian bahwa yang membatalkan puasa itu adalah makan, minum, bersenggama, dan kehilangan kesadaran (seperti pingsan atau kegilaan sementara). Jadi pada dasarnya, di-infus itu tidak membatalkan puasa. Akan tetapi, logikanya jika orang yang diinfus itu biasanya orang yang sudah dalam keadaan sakit parah, dan jika seseorang sedang sakit parah, maka dia tidak diwajibkan berpuasa pada saat itu, akan tetapi harus mengganti puasanya di hari lain setelah bulan Ramadhan.

Ada juga yang bertanya:

“Mas, kalo terangsang pas puasa itu batal endak puasanya?”

Wah… adik ini… ngapain je kok puasa-puasa bisa sampe terangsang gitu? Hehehehe…

2. Anggapan bahwa semua keuntungan material yang diperoleh ketika menjual barang atau jasa ketika bulan puasa itu adalah Berkah Bulan Ramadhan

Contoh nyatanya adalah ketika di sebuah acara televisi tentang liputan Ramadhan, memperlihatkan seorang penjual khas hidangan berbuka puasa yang diceritakan lumayan memperoleh keuntungan yang besar dari usahanya menjual hidangan tersebut.

Serta merta pembawa acara menyimpulkan,”Wah nampaknya ini berkah ramadhan buat Ibu ya…”

Pola-pola seperti ini selalu berulang kali ditayangkan dalam berbagai macam kondisi yang pada garis besarnya kurang lebih sama, meng-konversikan berkah Ramadhan dalam bentuk keuntungan material.

Sebenernya sih ini bukannya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar, sebab sangat tidak tertutup kemungkinan berkah ramadhan yang diberikan Tuhan itu dalam bentuk yang non material, misalnya berupa penghapusan dosa.

Namun apabila dalam setiap kesempatan di berbagai media selalu mengungkapkan bahwa berkah ramadhan itu selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materi, khawatirnya, lama kelamaan orang-orang awam (misalnya mereka yang masih mengira kalo buang angin di kolam renang itu membatalkan puasa), berfikiran bahwa yang namanya berkah Ramadhan itu ya kudu berupa materi, uang, kekayaan, pemasukan lebih, dan sejenisnya.

3. Warung Phobia

Entah mengapa mendadak banyak sekali pihak yang menderita warung phobia pada bulan Ramadhan ini dengan berbagai macam alasan.

Sehingga dampaknya adalah beberapa warung terpaksa tidak buka pada siang hari, atau jika buka, jendela kaca mereka ditutup sedemikian rupa sehingga baik hidangan maupun orang-orang yang makan tidak terlihat.

Sampai sekarang saya belum paham benar apa yang membuat beberapa orang begitu takutnya pada warung makan, sebab jika alasannya karena warung makan tersebut dengan segala macam penampakan yang ada padanya –ya hidangannya, ya aromanya, ya orang yang makan di sana–, akan menggoda orang-orang yang berpuasa, kok keliatannya itu alasan yang sangat naif ya…

Sebab Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa ketika bulan puasa, semua godaan akan dihilangkan, namun lebih mewajibkan kita berpuasa seperti orang-orang sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertaqwa. Jadi sebenernya menurut saya, ndak ada urusannya antara puasa dengan segala macam kegiatan nutupin warung itu.

Lagian, buat yang sudah bertahun-tahun berpuasa semenjak jaman akhil baligh yang telah lewat beberapa tahun yang lalu, mosok to masih tergoda sama makanan dan minuman yang terpampang di depan mata? Toh nanti ketika buka puasa, kita juga bakal makan dan minum kan?

Mosok ndak malu sama para gadis dan jejaka yang –apalagi hari gini– dapat godaan lebih dari makan dan minum, yang –kalau dipikirkan lumayan berat lho– belum bisa mereka rasakan ketika mereka berbuka puasa, tapi baru bisa dirasakan ketika mereka menikah nanti. Tau kan apa maksudnya? Menurut saya itu godaan yang jauh lebih berat lho.

Kalau dianggap orang-orang yang buka warung itu tidak menghormati “mereka yang berpuasa”, kok jadinya malah melenceng dari tujuan awal berpuasa ya?

Sebab, pertama, setahu saya ibadah puasa itu benar-benar untuk Tuhan dan segala macam balasan dan imbalannya juga langsung dari Tuhan. Jadi ndak ada urusannya sama manusia-manusia yang buka warung. Karena –sekali lagi–, kira berpuasa untuk Tuhan demi mendapatkan Ridho-nya, bukan untuk mendapatkan penghormatan sesama manusia.

Kedua, apa jaman dahulu kala Rasulullah S.A.W ketika berpuasa, meminta dihormati oleh orang lain? Baik antara sesama sahabat muslim, maupun dari para kafir quraisy? Setahu saya kok endak, karena Beliau beribadahnya benar-benar lillahi ta’ala bukan untuk dihormati. Ha mbok yang seperti ini yang dicontoh, lha wong sudah diberi contoh yang baik oleh Baginda Rasulullah S.A.W., kok malah melakukan tindakan-tindakan yang insya Allah tidak Islami gitu ya?

4. Seolah-olah Puasa Itu Ibadah yang Amat Berat

Memang berat tidaknya suatu ibadah itu, sebenarnya murni dari hati dan niat kita. Kalau niatnya kuat, insya Allah seberat apapun bisa kita jalani dengan ringan, lapang dada, dan ikhlas.

Tapi yang saya maksud di sini adalah, itu lho… Iklan-iklan di berbagai media itu lho…

Rata-rata mereka memakai kata-kata seperti ini:

“Dengan <nama produk obat maag>, anda dapat menjalankan ibadah puasa anda dengan lancar.”

“Agar badan tetap berenergi ketika menjalankan puasa ramadhan, jangan lupa minum <nama produk minuman energi apalah..> ketika sahur dan berbuka puasa.”

“Agar anda lebih nyaman beribadah, dapatkan busana muslim di <sebuah toko yang menyediakan pakaian muslim-muslimah>”

“Jagalah daya tahan tubuh anda di bulan puasa ini dengan <nama produk multivitamin>”

OK, mungkin tidak persis sama dengan segala macam gimmick yang ada, tapi you’ve got the point, kan?

Iklan-iklan itu seolah-olah memberikan kesan kalau berpuasa itu benar-benar sebuah perjuangan yang luar biasa berat sampai-sampai untuk melewatinya perlu segala macam device, tool, penambah stamina, multi vitamin, bahkan pakaian yang sesuai, supaya kita melewati segala macam yang berat-berat itu.

Padahal kenyataannya, ndak usah jauh-jauh di jaman Rasulullah deh, di jaman simbah putri saya masih kinyis-kinyis dulu, puasa ya puasa aja, ndak pake multi vitamin-multi vitaminan, yang maag tetep aja puasa, padahal simbah putri dan ibu saya menderita maag, tapi tidak pernah sampe “segitunya” dalam mengkonsumsi obat maag, lagian jaman dulu, mending buat beli beras daripada buat beli obat maag deh keliatannya.

Memang sangat benar sekali jika ada orang-orang yang melakukan tindakan seperti apa yang diiklankan itu, tapi mbok ya o le beriklan itu jangan bikin kesan seolah-olah bilang,”Lo kan puasa, makanya kudu mengkonsumsi <ini, itu, obat, multi vitamin, minuman berenergi, dan lain sejenisnya>, kalo endak Lo bakal tepar deh entar…”

Saya yakin masih banyak cara cerdas lain dalam beriklan kok.

5. Show Off Berjama’ah

Ini biasanya buat yang mudik, dari kota sudah mempersiapkan diri, pokokmen piye carane supaya nanti di mata orang-orang kampung akan nampak mapan, sukses, dan berkecukupan selama di kota.

Kalau misalnya memang mapan, mampu, dan berkecukupan sih ndak masalah. Lha kalo misalnya belum mapan, belum berkecukupan, dan sebagainya, tapi demi biar bisa keliatan berhasil di depan semua orang kampung, terus mengada-adakan yang ndak ada, sampe pake acara utang, kredit, ke pegadaian, dan sejenisnya, kok nampaknya ya mesakke yo? Kenapa tidak bersabar, ikhlas, dan qona’ah saja, tidak perlu mengada-ada, ndak usah gengsi.

Seorang kawan yang super cuek masalah kayak gituan mikirnya,”Biarlah mereka menertawakan dan mencemooh saya, saya tidak akan malu, karena apa yang saya capai selama ini benar-benar hasil kerja keras saya, dan kalo emang ternyata kerja kerasnya cuman sampai segini aja, ya mau gimana lagi?”

“Saya akan malu apabila orang yang mencemooh saya itu adalah orang yang pernah menolong saya secara finansial, memberi saya modal (memberi lho ya, bukan meminjami), atau memberikan saya pekerjaan yang super mapan, sehingga adalah sebuah cacat besar apabila saya pulang kampung dengan style kere seperti ini. Untunglah, sampai sekarang belum ada satupun orang yang menyindir-nyindir dan mencemooh saya itu, yang telah menolong saya seperti itu.”

Ah, kawan yang aneh…

Bukan hanya yang mudik, yang tidak mudik pun seolah-olah berlomba-lomba untuk Show Off dengan seksama. Mulai dari pakaian, hidangan, sampai furniture dan perabotan rumah tangga.

6. Open House Ria

Mungkin pemikiran saya agak aneh ya? Tapi menurut saya Open House ini kok agak kurang sreg gitu di hati.

Jikalau yang melakukan open house itu para selebriti (ah ada istilah yang lebih “ok” endak to?), mungkin saja masih bisa diterima, karena mereka menerima kehadiran para penggemar untuk meminta maaf pada para selebritis itu sebab sudah cukup lancang mengganggu privasi mereka, yang kadang kala sampai berujung pada perepcahan rumah tangga.

Lha tapi kalo pemimpin yang Open House? Setahu saya, pemimpin itu (maksud pemimpin di sini adalah, orang yang telah dipilih oleh masyarakat melalui proses-proses demokrasi, sebagai orang yang memimpin mereka, jadi bukan karena ascribed status) adalah orang yang memegang amanah dari masyarakat.

Nah, memegang amanah ini menurut saya adalah hal yang berat sekali, walaupun cuman satu amanah dari satu orang, lha ini, megang amanah dari sekian banyak orang je.

Umumnya amanah dari masyarakat itu antara lain,”Mbok ya o tulung diperjuangkan harapan kami yang ingin agar kehidupannya lebih baik secara fisik dan mental, pendidikan anak-anak terjamin, kesehatan para balita dan manula diperhatikan, lapangan kerja tersedia luas, penanganan terhadap bencana alam berjalan dengan cepat dan tepat sasaran, dan masih banyak lagi.”

Tapi kenyataannya belum semua bisa terlaksana, sehingga amanah yang diberikan sekian banyak rakyat pada para pejabat itu sesungguhnya masih… ah sudahlah..

Lha, dengan kondisi kemampuan mereka memegang amanah yang masih “ah sudah lah” itu, kok ya tega-teganya melakukan open house supaya masyarakat bisa datang untuk bermaaf-maaf-an dengan mereka.

Hal ini mengganjal karena, dalam latar belakang budaya yang saya alami selama ini, keadaan umum yang dipraktikan adalah: Orang yang bersalah lah yang datang untuk minta maaf kepada siapapun yang telah dia aniaya, baik secara fisik ataupun mental, baik sengaja maupun tidak. Tapi, ini kok… ah sudah lah..

Semoga rakyat banyak yang datang ke open house ikhlas lillahi ta’ala.

Akhir kata, ini insya Allah semacam pengingat buat saya sendiri, semoga saya tidak seperti itu ketika saatnya tiba kelak. Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan 1428 H yang tinggal beberapa hari ini, mohon maaf lahir dan bathin.

Taqaballahu minna wa minkum taqbbal ya kariim…

Tags: ,
Posted under indonesia, pengalaman |

6 Comments to “Catatan di Akhir Ramadhan 1428 H”


  1. indie Says:

    Catatan bulan puasaku tahun ini: terlalu banyak bermalas-malasan, terlalu banyak makan pas buka puasa, terlalu sulit menahan godaan makan banyak pas sahur, terlalu banyak ketiduran. Alhasil, berat nambah… :(

  2. temukonco Says:

    tapi sekarang udah normal lagi kokkk… Buktinya dirimu udah jadi model iklan di cover belakang sebuah majalah fashion terkemuka to? :D

  3. indie Says:

    Kekekekekekek!!! Ngawuuuuur… kebohongan yang tak perlu diekspos…. ck-ck-ck-ck-ck!

  4. lantip Says:

    duh.. tidak kusangka sudah ramdhan lagi… berarti bulan ini saya ndak puasa

    *amnesia*

  5. ndoro kakung Says:

    lah kok lama ndak di update ki piye to, dab?

  6. megalife insurance Says:

    megalife insurance…

    attesting artillerist berates southernmost outlives,…

Leave a Comment