Antara Imunisasi dan Tes Keperawanan
Written by temukonco on Sabtu, 18 Agustus, 2007 – 1:30 pmSiapa yang pernah merasakan derasnya aliran adrenalin, tangan yang mendadak dingin, dan rasa tegang yang tidak terkira ketika mendadak Kepala Sekolah SD kita masuk di depan kelas dan mengumumkan jika hari ini akan ada imunisasi bagi para siswa (termasuk kita) yang duduk di kelas 1 - 3 SD?
Memang para guru dan bahkan kepala sekolah sendiri menjelaskan bahwa imunisasi ini penting demi kesehatan kita, tapi kita yang pada waktu itu masih SD sama sekali tidak perduli dengan apa yang diucapkan oleh mereka. Dipikiran kita yang ada hanyalah, imunisasi itu sama dengan sebuah jarum yang panjang dan segede gaban, ditusukkan di lengan, dan itu cukup dalam, kemudian masih ditambang dengan menekan bagian pangkal dari suntikan itu sehingga cairan berwarna aneh yang ada meluncur masuk ke lengan kita lewat jarum yang tertancap cukup dalam itu.
Jangankan melihat, membayangkannya saja sudah terasa sakit dan ngilunya. Bujukan dari para petugas kesehatan yang ingin menenangkan para murid dengan mengatakan bahwa,”Ndak sakit kok Dik, rasanya cuman seperti digigit semut.” Tidak banyak menolong.
Para murid berpikir,”Kami memang masih kecil, belum secerdas kalian, baru beberapa tahun masuk SD, tapi paling tidak kami sudah bisa membedakan antara gigitan semut yang hanya dipermukaan kulit saja, dengan jarum kalian yang masuk sampai beberapa senti di bawah kulit. Dan dengan fakta seperti itu, kalian pikir kami akan percaya kali rasa sakitnya akan sama? Mbok nek ngapusi sing tenanan to Pak…”
Akhirnya walaupun ditandai dengan kejadian-kejadian seperti beberapa usaha “melarikan diri” dari kelas, ditarik-tarik oleh para guru, pertama kali melihat seorang murid yang paling serem dan paling gede di kelas nangis dengan kerasnya, bahkan dijanjikan akan dibagi permen setelah acara imunisasi selesai (yang tetap tidak ngefek sama sekali), acara imunisasi ini selesai. Berbagai pengalaman yang dirasakan para murid terus menerus menjadi bahan pembicaraan sampai beberapa hari kemudian.
Demikian tadi “cuma” sedikit adegan imunisasi massal yang pernah saya alami ketika di SD jaman dahulu kala… (ya ya ya.. memang, pastinya itu sudah lama sekali… :p)
Itu baru imunisasi lho ya, yang secara kesehatan sangat bermanfaat bagi para murid, walau sedikit menyakiti mereka (iya, tidak begitu menyakitkan sih, tapi ya tetap jauh lebih sakit kalau cuman dibandingkan dengan digigit semut), tapi rasa ketakutan dan mungkin hampir seperti terror, menghantui anak-anak SD itu ketika akan diimunisasi.
Lha beberapa hari yang lalu, saya membaca bahwa seorang kepada daerah berniat akan mengadakan pemeriksaan keperawanan pada siswi-siswi SMP khususnya yang duduk di kelas 3, dan SMA / yang sederajat di wilayah kekuasaannya.
Bayangkan, memeriksa keperawanan anak-anak yang masih SMP dan SMA itu lho… Rak dho masih kinyis-kinyis to itu?
Karena sejauh ini belum pernah ada pihak yang melakukan pemeriksaan massal tersebut pada siswi-siswi SMA, maka nampaknya akan sangat sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana jadinya nanti.
Tapi kalau misalnya dibandingkan dengan kegiatan imunisasi jaman pas SD dulu, kok keliatannya pemeriksaan keperawanan ini sangat jauh tidak bermanfaat ya?
Sebab:
1. Dibandingkan kegiatan imunisasi di SD yang bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh pada para murid, yang berarti di sini tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan murid. Lha kalo kegiatan pemeriksaan keperawanan ini tujuannya buat apa? Memberitahukan pada wali murid bahwa anak mereka masih perawan atau tidak? Kemudian untuk apa?
Mungkin sekedar pernyataan,”Selamat putri bapak dan ibu masih perawan.” Terus untuk apa? Setelah anak gadisnya disuruh tidur terlentang sambil membuka lebar kedua kakinya, hanya itu yang diperoleh? Ah pasti mereka bercanda…
Bagi yang sudah tidak perawan, pernyataan apa yang akan diucapkan,”Maaf Bapak dan Ibu, kami sudah berusaha sekuatnya, tapi ternyata putri Anda berdua sudah tidak perawan lagi…” Kemudian apa?
Yang tidak perawan itu mau dikeluarkan dari sekolah? Apakah akan dipikirkan kira-kira gimana nasib si anak kalo dikeluarkan dari sekolah? Hak mereka apa ngelarang-ngelarang perempuan yang sudah tidak perawan untuk sekolah?
Tapi kalau tidak dilakukan tindakan apa-apa berkenaan dengan kenyataan tersebut, berarti apa bedanya yang perawan dengan yang tidak? Ha mbok rasah melakukan pemeriksaan aja kalo belum jelas follow up kegiatan ini.
2. Imunisasi anak-anak SD, memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu dalam jangka waktu yang bervariasi, ada juga yang selamanya, seperti misalnya imunisasi cacar itu. Jadi paling tidak minimal efeknya positifnya sampai beberapa waktu mendatang benar-benar dirasakan.
Lha kalo pemeriksaan keperawanan? Tidak tertutup kemungkinan to, siangnya diperiksa, terus mungkin malemnya anak perempuan yang diperiksa itu kehilangan keperawanannya, baik secara disengaja maupun tidak?
Sehingga, tidak ada jaminan kan, kalau ketika pemeriksaan itu mereka masih perawan, maka paling tidak sampai lulus SMA, mereka masih tetap perawan?
Terus jangka panjangnya, kegiatan ini mau dibawa ke mana?
3. Kalau Imunisasi anak-anak SD, walaupun ketika pulang orang tua anak-anak ini mendapati anak-anak mereka menangis sambil menggulung sebelah lengan baju, karena masih terasa sakit akibat suntikan, tapi para orang tua itu tidak ikut bersedih bersama anak-anak mereka.
Mungkin beberapa malah merasa lega dan bahagia karena paling tidak anaknya sekarang daya tahan tubuhnya jadi jauh lebih baik, sehingga keinginan mereka untuk melihat anak-anak mereka yang sehat dan lucu-lucu itu semakin terbuka.
Nah kalo pemeriksaan keperawanan? Entahlah kalau orang lain, tapi kalo saya kok keliatannya tidak rela dan tidak tega melihat anak saya yang masih SMP atau SMA diperiksa keperawanannya tanpa tujuan yang jelas, selain hanya untuk tahu dia masih perawan apa bukan (Apalagi kalo anak saya itu cowok, bukan cewek… Pasti saya lebih tidak rela lagi :p).
Walalupun si anak masih perawan, pasti mereka merasa malu, takut, dan tertekan, dengan proses pemeriksaan itu. Ya bayangkan saja, anak seusia itu, diharuskan memperlihatkan “itu” mereka pada beberapa orang berseragam putih-putih plus memakai masker di wajah mereka, tanpa tahu pasti apa tujuan tindakan ini, selain melihat “itu” mereka dan memastikan apakah hymen dalam kondisi utuh atau sudah sobek di sana.
Kira-kira terlalu jauh endak sih, kalo saya menganalogikan pemeriksaan keperawanan ini dengan pemeriksaan yang ingin membuktikan bahwa seseorang itu benar-benar memiliki jenis kelamin perempuan dengan cara harus melihat kelamin dan payudara mereka. Untuk apa? Ya untuk memastikan kalo mereka benar-benar perempuan… Please deh Mas…
4. Dari sisi medis, setahu saya, terutama para dokter, terikat pada sumpah dokter yang salah satunya adalah merahasiakan segala hal yang diketahuinya karena pekerjaan dan keilmuan mereka sebagai dokter. Nah, kalo gitu, ngapain sampai pemerintah daerah ikut-ikutan pengen dikasih tau tentang keperawanan seseorang yang menjadi pasien si dokter itu. Ketemu pirang perkoro jal?
5. Dari sisi kesetaraan gender, kenapa hanya perempuan yang diperiksa keperawanannya? Yang cowok-cowok gimana? Keperjakaannya diperiksa endak? Ah kalau aja memang diperiksa, tentu akan sangat sukar mengetahui apakah seseorang itu masih perjaka atau tidak, baik dari penampakan fisik, maupun dari kategori kapan seseorang itu dikatakan masih perjaka atau tidak. Hayo buat yang cowok-cowok, tanpa memperhitungkan “mimpi basah” karena itu adalah suatu hal yang alami, kira-kira siapa yang masih perjaka?
Ayolah, masih banyak cara lain yang tepat guna dan berhasil guna kok selain sekedar memeriksa keperawanan yang dampaknya hanya menyentuh permukaan, bukan ke inti permasalahannya…
Ngomong-ngomong, rencana ini bukan dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, kan?
Posted under indonesia, opini |
Subscribe to my blog using RSS
Desember 7th, 2007 at 5:34 pm
ah, yang penting ‘njepit’, bung… kekekekeke
Desember 14th, 2007 at 12:35 pm
Jijay-bajay-capcay…
Aku eneg ngebayanginnya….
Desember 14th, 2007 at 1:28 pm
Tes yang diadakan oleh Buapti Indramayu itu bener bias gender. Masak cuma perempuan yang disuruh tes virginitas?? Coba kalo cowok di tes keperjakaannya. Jangan terus mengkambinghitamkan perempuan sebagai biang kerusakan moral dong. Huhh..i hate it!!!
Januari 30th, 2008 at 8:00 pm
Please DecH….
Tega bUanget Kalo seandaiNYa Ntu TerJadi….oh, Gila apa jadinya Perempuan, tanpa perempuan laki-laki juga bukan apa-apa….
Jd….Please Dech….di zaman modern kok masih ada orang yang kolotan…
Februari 11th, 2008 at 1:15 pm
aduhhh……… klo ada test keperawanana kyk gtu, itu berarti ANEH bin AJAIB., bayangin aja, masa seluruh anak SMO dan SMA se-sekolah di periksa keperawannya satu per satu. aneh bgt kan, baru di indonesia lho itu terjadi….
kalo menmurut pandangan aku ce’. itu hny pengennya si dokter aja untuk ngeliatin kemeluannya anak-anak SMP dan SMA.. iya ngga……………………………?????!
apalagi dokter2 cowoknya,, Ugh, pasti kkegirangan deh ngeliat itu semua…
lha di sisi murid, pasti murid akn mengalami dampak psiko yg tragis. apalagi kalo sdh mencangkup bagian2 yang sagt sensitif itu..
THANK’S bt yg baca yahhHhh..,,,
Februari 21st, 2008 at 9:49 am
Begh……………
Kalau udah gini rasanya pingin banget jadi dokter ;D
Tapi yang jelas yang ginian nggak perlu lah.
Kasihan mereka, harus rela merentangkan kakinya di depan orang yang tidak dicintainya. Mendingan sama pacarna
Lagipula itu hak privasi seseorang lah. Mau perawan kek, mau enggak kek, mau busuk kek, itu kan milik dia, hak dia dan tanggung jawab dia.
dan lagi gimana perasaan sang anak kalau tau (atau memang udah tau) ternyata dirinya sudah nggak perawan? gimana perasaan orang tuanya?
Jangankan seorang anak, orangtua pun bisa jadi selera ngelihat baygon
Yang jelas seh yang buat keputusan ini nggak mikir panjang lebar. Andai dia yg tau anaknya nggak perawan
Februari 26th, 2008 at 2:16 pm
dduuuhh…giLa neH.. naJis gue!!
kL meMang naNti aDa kebiJakan bgiTu,,jgn cwE doanK Donk yg dPriksa!!!
cWo juga perLu!!
Maret 6th, 2008 at 7:49 pm
haaaahhhh ???? @^#^&%^$##$%^&*(^%$#%^^^*
kurang kerjaan aja syeeeehhhh