Ah, Orang Kota…
Written by temukonco on Senin, 15 Januari, 2007 – 1:06 amBeberapa hari yang lalu seorang blogger menuliskan mengenai bagaimana keheranannya ketika beberapa anak-anak “didik”-nya memberikan alamat yang sangat singkat dalam rangka untuk kepentingan surat menyurat konvensional.
Beliau masih tidak percaya bagaimana bisa sebuah surat yang dikirim via pos akan sampai ke tujuan jika alamat yang diberikan oleh calon penerima surat hanya (contohnya) seperti ini:
Warsito
Pereng, Bumirejo
Lendah, Kulon Progo
DIY
Bandingkan dengan alamat ini:
KPPOD
Plaza Great River 15th Floor
Jl Rasuna Said Kav. X-2 No. 1
Jakarta 12950
Dalam kehidupan orang kota sehari-hari, alamat surat yang sangat singkat itu jika diaplikasikan dalam kegiatan surat menyurat di perkotaan, kemungkinan besar tidak akan sampai.
Sehingga -kembali ke kawan blogger kita tadi- beliau tidak berani mengirimkan surat via pos dengan alamat yang “seadanya” itu, dan kemudian menitipkan surat-surat tersebut ke rekannya yang berdomisili di Jogja.
Walaupun sebenarnya, surat-surat yang dikirim ke alamat yang simpel di desa tersebut biasanya bisa sampai berkat adanya kerjasama yang cukup baik antara Pak Pos, Pak Camat, Pak Lurah, dan Pak Kepala Dusun yang bersangkutan.
Jadi biasanya Pak Pos mengantarkan surat-surat tersebut ke Kantor Kecamatan (biasanya ini untuk daerah yang agak sedikit lebih terpencil) atau bisa juga langsung mengantarkannya ke rumah Pak Kepala Dusun (jika lokasi relatif mudah dicapai oleh Pihak Pos).
Kemudian pihak kecamatan mengutus salah satu pegawainya untuk mendistribusikan surat-surat tersebut ke Kantor-kantor Kepala Desa yang ada di dalam wilayahnya, lalu oleh pihak Kepala Desa, kembali surat-surat tersebut didistribusikan lagi ke rumah-rumah Kepala Dusun yang ada di bawahnya.
Nah, dari rumah Pak Kepala Dusun inilah surat-surat itu diantarkan oleh Pak Kadus atau mungkin staff-nya ke penerima surat yang bersangkutan. Memang nampaknya agak kurang jika kita lihat dari sisi efektifitas dan kecepatan. Namun sangat jarang surat-surat (juga wesel dan telegram) tersebut tidak sampai ke tujuan.
Gegar Budaya
Ketika saya membaca kisah tersebut, saya teringat beberapa bentuk “gegar budaya” yang juga pernah dialami oleh beberapa kawan dan relasi kita yang berasal dari Jakarta ketika mereka secara tidak sengaja bersentuhan dengan budaya-budaya lokal pedesaan di Jawa.
Ada dari mereka yang terheran-heran dan tidak percaya ketika anak-anak SD di pedesaan pergi ke sekolah hanya memakai sandal jepit dan bahkan ada yang bertelanjang kaki. Ada juga yang heran ketika melihat sebagian lagi dari anak-anak SD tersebut yang sudah memakai sepatu segera melepas kembali sepatunya dan memilih bertelanjang kaki ketika hari hujan dalam perjalanan pergi atau pulang sekolah.
…sang penari melakukan hal-hal yang agak beraroma supranatural seperti makan kemenyan yang sedang membara dan minum air kembang…
Kawan-kawan saya yang dari kota tersebut benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin ada anak sekolah yang tidak mampu membeli sepatu sekolah. Mereka juga tidak habis pikir ketika jawaban yang diberikan anak-anak yang melepas sepatu sekolah mereka ketika hari hujan tadi adalah,“Wah, eman-eman sepatu ne Mas nek teles, mangke malah rusak tur mboten awet…”
Terjemahannya: “Wah, sayang sepatunya Mas kalo basah, nanti malah rusak dan tidak awet…”
Di lain waktu, ketika melewati jalan Wonosari menuju ke arah Semin - Gunung Kidul, seorang kawan yang lain juga heran melihat belalang yang sudah mati diikat dan direntengi (halah, “direntengi” itu bahasa Indonesianya apa ya?) sedemikian rupa dijual disepanjang jalan, bahkan lebih terkejut lagi ketika saya beritahu bahwa belalang-belalang tersebut bukan untuk konsumsi burung berkicau peliharaan, akan tetapi untuk konsumsi manusia. Dia tidak bisa membayangkan bagian mananya dari belalang itu yang bisa dikonsumsi.
Atau ada juga sekelompok ibu-ibu dari perkotaan yang kebingungan ketika sampai ke suatu lokasi pasar tradisional, ternyata pasar itu sepi dan kosong mlompong. Padahal hari masih sangat pagi. Rupanya Ibu-ibu dari kota itu belum tahu karena, percaya atau tidak, sampai sekarang di beberapa desa masih umum jika menemui sebuah pasar tradisional yang berpindah-pindah lokasi dari satu tempat ke tempat lainnya setiap hari mengikuti hari pasaran penanggalan Jawa.
Kisah Sang Primadona
Sebuah ke-gegar budaya-an lain yang pernah dialami kawan saya yang lain lagi lebih menarik. Ketika itu ia dan beberapa kawan-kawannya pergi ke sebuah pedesaan di Jawa dalam rangka tugas studi barang beberapa minggu.
Pada suatu malam ternyata di lapangan desa tersebut ada pertunjukan seni tari-tari tradisional yang konon para penarinya -yang terdiri dari gadis-gadis muda- dibuat sedemikian rupa oleh sang pawang dari kelompok kesenian tersebut sehingga memasuki kondisi trance dan dalam kondisi itu sang penari melakukan hal-hal yang agak beraroma supranatural seperti makan kemenyan yang sedang membara dan minum air kembang sembari tetap menari dengan gerakan yang sensual menggoda. Apalagi para penari tersebut memakai celana pendek ketat dengan tinggi beberapa sentimeter di atas lutut.
Kawan saya yang sedang tugas studi tadi nampak (dan mengaku) terpesona dengan salah seorang anggota penari tradisional tersebut yang ternyata memang primadona kelompok tari itu karena memang nampak menawan, menggoda, dan memesona.
Dengan tekad bulat kawan saya berusaha gimana caranya agar bisa berkenalan dengan Sang Primadona.Setelah menunggu dengan sabar sampai acara selesai -maksudnya, acara selesai dan kondisi Sang Primadona yang kelelahan karena habis trance itu pulih kembali, dan itu artinya saat malam sudah akan berganti dini hari- akhirnya kawan saya bisa berkenalan dengan Sang Primadona itu, menanyakan alamatnya serta berjanji akan datang ke rumah besok sore. Tentu saja Sang Primadona ini menerima dengan senang hati, lha wong yang menanyakan alamat dan ingin bertandang ke rumahnya adalah seorang cah bagus dari kota je…
Singkat cerita keesokan sorenya kawan saya itu -setelah berdandan rapi manis dan tentu saja wangi- dengan semangat dan deg-deg-an berkunjung ke rumah Sang Primadona. Setelah sampai di tujuan dan berjumpa dengan Sang Primadona apa yang terjadi?
Mungkin kata-kata yang tertulis nanti agak offensif, tapi itu yang keluar dari pengakuan kawan saya.
Ketika bertemu dengan Sang Primadona di rumahnya, ternyata penampilan Sang Primadona amat jauh berbeda dari apa yang terlihat semalam. Walaupun tahu kalau yang dihadapannya ini adalah orang yang sama dengan Sang Primadona yang tadi malam diajak berkenalan oleh kawan saya, Sang Primadona terlihat begitu sangat tidak menawan, tidak menggoda, dan tidak memesona.
Hidung yang semalam tampak bangir menantang, saat itu sama sekali tidak nampak bangir. Sepasang mata yang semalam tampak indah berkilau, saat itu nampak biasa banget. Bibir yang tipis menggoda, saat itu sama sekali tidak nampak.(Ok, sejujurnya, kawan saya dengan nada amat kecewa kurang lebih mengatakan “bedo banget… uelek banget… mawut… uadoh buanget bedane…“)
Walhasil, dengan alasan masih sibuk dengan laporan yang berkaitan dengan tugas studinya, dengan sangat terpukul kawan saya pamit pulang kembali ke rumah seorang perangkat desa setempat, di mana selama ini kawan saya itu menginap.
Sesampainya di rumah perangkat desa itu, kata kawan saya, ternyata Pak Perangkat Desa telah menunggunya dengan senyum menahan geli. Sebelum kawan saya bicara, Pak Perangkat Desa lebih dahulu memotongnya sambil cengar-cengir dengan pertanyaan,”Piye Mas? Kaget? Beda adoh yo?”
Kepada kawan saya, Pak Perangkat Desa menjelaskan bahwa apa yang semalam dilihat kawan saya itu tidak lebih adalah sebuah rekayasa supranatural yang lebih umum disebut dengan pengasihan dan/atau penglarisan. Sehingga Sang Primadona nampak sangat menarik, tujuannya agar supaya Sang Primadona bisa menarik banyak pengunjung sehingga kelompok tari tradisional tersebut akan banyak memperoleh order untuk tampil di mana-mana. Jadi selain pengasihan, fungsinya juga sebagai penglaris.
Demikianlah yang dikisahkan kawan saya. Sampai sekarang dia amat yakin kalau dirinya sudah menyaksikan secara langsung ampuhnya efek pengasihan tersebut. Walaupun saya sendiri lebih yakin bahwa efek make-up, pencahayaan panggung, kondisi malam yang tidak terlalu terang, dan juga kondisi kawan saya yang waktu itu sudah sangat mengantuklah yang membuatnya seolah-olah terkena efek pengasihan itu.
Posted under pengalaman, yogyakarta |
Subscribe to my blog using RSS
Desember 10th, 2007 at 6:21 pm
sangat menarik, tentunya feature ( bener gak, mengko salah, tapi rak popo ketoke inggris gak semua paham yo mas.. feature hihihi… bener rak yo)kali ini sangat menarik, tetapi diluar segala efek sekalipun saya banyak menemui para pengusung budaya menggunaka cara-cara irrasional di luar itu semua. sepertinya mengabutkna kesadaran. semacam andai kita mabuk semua terlihat cantik, bahenol dan merangsang. my god saya suka aliran penulisa anda kali ini, seperti rafting di selokan mataram saat hujan. lancar deras dan memukau— saya perlu meruduk saat jembatan menghadang. salute
Desember 10th, 2007 at 6:22 pm
Ah anda terlalu berlebihan jika memuji…
Tapi semoga itu memberi semangat saya untuk terus hidup dan menulis… Amiiinnn…
Desember 10th, 2007 at 6:24 pm
mas…mbok bikin cerpen yang aku bisa tertawa membacanya…request ini….hehehehehehe
Desember 10th, 2007 at 6:28 pm
pikiran yang mirip kadang-kadang terlintas. seperti penyihir heran memikirkan cara muggle hidup tanpa sihir, saya juga memikirkan bagaimana caranya hidup tanpa handphone? bagaimana rasanya hidup tanpa tau perkembangan film baru, lagu baru, dua diantara beberapa hal remeh yang saya besar-besarkan.
apakah hidup tanpa keinginan rumit bisa membuatnya jadi lebih sederhana?
Desember 10th, 2007 at 6:29 pm
wahahah pengasihan. hihihi
hmm.. saya juga pernah misuh-misuh (halah iki indonesianya sing tepat opo?) sama seseorang. dia adalah orang jakarta, yang menikah dengan kepala adat di maluku. ketika sampai di maluku tenggara, yang pertama dicari olehnya adalah SALON. Edyan!
gegar budaya yang aneh, karena tidak ada pergeseran di situ, yang ada hanyalah celupan singkat dan saya lebih memilih kata korsleting persepsi. hihihi
Desember 10th, 2007 at 6:35 pm
Blog yang seru
Mampir ke blog saya ya…
http://www.friendster.com/masdimas/
then klik VIEW BLOG, enjoy.
Desember 10th, 2007 at 6:36 pm
Cerita yang amat menarik, meski dalam beberapa bagian sudah tidak kontekstual (data2 lama, ya)
Desember 19th, 2007 at 5:16 pm
Akhirnya.. saya bisa membaca tulisan temukonco lagi..
Desember 19th, 2007 at 5:18 pm
Orang desa memang lebih simple, ga neko-neko, ga sekomplek orang-orang kota