Surat Nikah
Written by temukonco on Sabtu, 30 Desember, 2006 – 11:37 amKepada Bapak-bapak, Ibu-ibu, Suami-suami, Istri-istri, dan para penganten baru, saya ingin bertanya. Biasanya, jika sedang dalam perjalanan dan/atau sedang berlibur di suatu tempat, pernahkah anda membawa dokumen-dokumen pribadi penting anda yang lainnya selain KTP, PASPOR (bagi yang memiliki), SIM, STNK, ATM, dan Kartu Kredit (juga khusus bagi yang memilikinya saja)?
Kecuali memang sangat diperlukan atau mungkin perjalanan kita memang berkaiatan dengan dokumen-dokumen pribadi penting lainnya, seberapa seringkah anda membawa Akte Kelahiran, Ijazah (dalam tingkatan pendidikan manapun), Sertifikat Tanah, BPKB, SKCK, atau dokumen-dokumen lain yang sejenis?
Bagaimana dengan Surat Nikah? Seberapa sering anda membawa-bawa surat nikah itu dalam perjalanan anda disamping dokumen-dokumen pribadi yang wajib bawa seperti yang sudah disebutkan di awal tadi?
Entah kalau anda, yang jelas dari jawaban beberapa kawan saya –yang sudah menikah tentunya ketika saya menanyakan apakah mereka biasa membawa-bawa surat nikah jika sedang berpergian jauh/berlibur, kebanyakan jawabannya adalah TIDAK.
Pertanyaan saya ini sebenarnya sudah muncul sejak lama tetapi kembali menggelitik saya pada beberapa hari terakhir ini, setelah melihat berita-berita yang muncul di televisi.
Kalau mungkin anda sama nganggurnya dan sama kurang kerjaan-nya seperti saya, serta sering menonton berita-berita kriminal pada siang hari di TV, kemungkinan besar sekali anda pasti sangat akrab dengan berita-berita yang melaporkan sepak terjang SATPOL PP yang dibantu dengan aparat keamanan melakukan razia di hotel-hotel melati (btw, pernah dengar satpol PP melakukan Razia di Jaringan Hotel Hilton? Atau Accor? Atau hotel-hotel internasional berbintang lainnya? Kok saya kebetulan ndak pernah denger ya?) dalam rangka mencari dan menangkap pasangan-pasangan yang berbuat mesum di hotel tersebut.
Setiap pasangan yang ditemui di dalam kamar hotel ditanyakan identitas mereka dan ditanyakan pula bukti apakah mereka benar-benar pasangan yang menikah resmi atau bukan.
Mungkin kalau yang tertangkap itu anak-anak yang masih berpakaian SMU (ah anak muda jaman sekaran…) pembuktian mereka tidak menikah sangat mudah di lakukan. Demikian juga dengan pasangan yang –misalnyaâ€â€si pria sudah menikah sedangkan yang perempuan belum menikah (karena mungkin simpanan atau PSK), juga mudah untuk membuktikannya dengan cara melihat KTP yang bersangkutan.
Namun bagaimana jika pasangan itu di KTP mereka sama-sama tertulis “Menikah†–atau dalam beberapa tempat tertulis dengan polosnya “Kawin‖? Bagaimana SATPOL PP mencari pembuktian kalau pasangan tersebut benar-benar suami-istri?
Dalam banyak kasus, kalau hal seperti itu terjadi, kebanyakan para petugas SATPOL PP tersebut menanyakan Surat Nikah dari pasangan yang bersangkutan untuk bukti yang menguatkan bahwa pasangan tersebut adalah benar-benar suami-istri.
Nah dari sinilah pertanyaan di awal tulisan saya muncul. Kira-kira seberapa sering sih pasangan suami istri membawa-bawa surat nikah dalam perjalanan/liburan mereka?
Kembali ke kasus penggrebekan di hotel-hotel kelas cekeremes oleh SATPOL PP tadi, bagaimana jika pasangan suami-istri tadi karena berbagai macam alasan (dan salah satu alasan yang umum adalah: Adalah hal yang tidak umum bagi pasangan suami-istri untuk membawa-bawa surat keterangan nikahnya ke mana-mana seperti layaknya membawa KTP)?
Dalam kasus yang umum, biasanya pasangan tersebut langsung dibawa ke kantor untuk diproses sambil tidak lupa dihujani sorotan lampu dan kamera dari mana-mana untuk dijadikan bahan berita yang akan tayang pada keesokan siangnya di TV-TV swasta.
Amit-amit Jangan Sampai Kejadian
Coba bayangkan bagaimana kalau yang jadi pasangan tersebut adalah kita dan istri/suami kita yang karena memang penghasilan yang pas-pas-an namun di sisi lain benar-benar ingin membuat sebuah pernikahan yang lengkap dengan bulan madunya menjadi suatu hal yang istimewa dan tidak terlupakan untuk berdua, sehingga hanya mampu menyewa sebuah kamar di hotel kelas melati.
Lalu karena kebahagiaan dan hasrat yang menggebu-gebu ditambah lagi karena hal yang tidak umum membawa-bawa Surat Nikah ke mana-mana tidak seperti halnya KTP, maka kita tidak membawa Surat Nikah ketika check in di hotel itu.
Dan ketika sedang bahagia-bahagianya memadu kasih menikmati bulan madu mendadak pintu kamar digedor dari luar. Kemudian ketika pintu dibuka (dengan terlebih dahulu menggunakan pakaian apa adanya karena tergesa-gesa) yang muncul adalah sekelompok orang-orang berseragam dan sorotan lampu yang menyilaukan serta kamera-kamera TV di mana-mana.
Kemudian petugas berseragam tersebut menanyakan identitas kita, menanyakan apakah benar-benar suami istri, dan pada akhirnya menanyakan bukti apa yang menguatkan pernyataan kita bahwa kita adalah suami-istri. Pada saat itulah kita tersadar bahwa surat nikah kita yang baru jadi itu kita tinggal di rumah dengan pertimbangan supaya tidak gampang lecek atau hilang karena sampai sekarang belum ada kantor yang melayani perpanjangan surat nikah.
Petugas tersebut tetap kukuh pada pendiriannya untuk membawa kita dan istri kita ke kantor mereka untuk diproses. Sementara kita tidak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah digiring ke mobil petugas sambil masih dihujani lampu dan kamera TV yang nampaknya menjadi bentuk modern dari seremonial mengarak pasangan gelap keliling kampung di desa-desa pada jaman dahulu.
Kemudian di kantor petugas tersebut, kondisi juga tidak lebih baik. Bahkan kadang-kadang ada yang harus menginap semalam di tahanan guna menunggu keesokan harinya bagi petugas untuk meng-cross check-an pengakuan kita dan istri kita yang sebenarnya memang sudah jadi suami istri di Kantor Catatan Sipil yang baru buka keesokan harinya kalau pas tidak hari libur.
Kalau misalnya hari libur? Entahlah, mungkin lebih lama bermalam di sana. Atau mungkin dilepaskan setelah diberi penerangan mengenai moral dan susila dari petugas.
Bagaimana jika kejadian tersebut menimpa kita? Benar-benar bulan madu yang tidak terlupakan bukan? Sayangnya tidak terlupakannya itu dalam artian yang negatif.
Kalau tidak salah dulu saya pernah melihat di sebuah rubrik surat pembaca mengenai kasus yang serupa ini. Akan tetapi sayangnya saya lupa di surat kabar apa dan pada tanggal berapa.
Namun saya punya keyakinan bahwa kasus-kasus salah grebek seperti ini sangat mungkin terjadi mengingat perangkat pembuktian yang dimiliki petugas tidak cukup kuat.
Kasus yang salah tangkap yang hampir sama juga pernah terjadi beberapa waktu lalu ketika di sebuah daerah mengadakan razia terhadap PSK di beberapa kawasan dan dalam operasi itu ikut terjaring seorang ibu rumah tangga yang –kalau tidak salah- baru saja pulang dari kantor tempat kerjanya. Seperti umumnya petugas-petugas SATPOL PP lainnya, dalam kejadian ini yang dilakukan adalah angkut dulu urusan belakang.
Petugas-petugas tersebut tidak pernah mengakui bahwasanya mereka tidak bisa membedakan secara tepat mana perempuan yang PSK mana perempuan yang bukan PSK.
***
Moral dari tulisan panjang, tidak konsisten, dan agak emosional ini adalah sesungguhnya yang bertanggungjawab terhadap moral dan susila seseorang ialah orang atau individu itu sendiri bukan negara.
Untuk bisa menumbuhkan individu yang bermoral baik, maka tugas negara yang sesungguhnya adalah memberdayakan Keluarga sebagai institusi masyarakat terkecil secara optimal agar dapat memberikan pendidikan moral, agama, dan susila kepada anggota-anggota yang ada di dalamnya.
Bukan malah menghalangi aktifitas-aktifitas yang mendukung terbentuknya suatu Keluarga yang bahagia dan harmonis, seperti misalnya membubarkan acara bulan madu para pengantin-pengantin baru berpendapatan pas-pas-an yang kuatnya cuma check-in di hotel melati.
Pesan-pesan untuk para pengantin baru yang mau berbulan madu atau suami-istri yang ingin menghabiskan liburan panjang mereka dengan bersantai di hotel:
- Jangan lupa bawa surat nikah
- Jika lupa membawa surat nikah, cobalah sebisa mungkin untuk menginap di hotel berbintang.
- Jika tetap tidak memungkinkan, alangkah baiknya bulan madunya ditunda dulu untuk pulang dan mengambil surat nikah, daripada nanti diarak ke kantor petugas.
Semoga tips tadi berguna ya… Selamat berlibur dan selamat tahun baru…
Posted under opini, pengalaman, yogyakarta |
Subscribe to my blog using RSS
Desember 8th, 2007 at 5:27 pm
lucu yang miris hehehe..emang aku juga suka iseng nonton acara2 kriminal di tipi itu pas lagi ditayangi adegan-adegan yang bikin deg-degan itu..
Desember 19th, 2007 at 5:29 pm
mungkin kakakku termasuk satu dari segelintir sekali orang yang saking paranoia-nya kemana-mana (termasuk silaturahmi ke sodara yang rumahnya ndak terlalu punya banyak kamar -baca: rumahku) dan terpaksa sambil senyum-senyum menginap di hotel di prawirotaman, dia dengan tidak ragu untuk membawa surat nikahnya. mungkin dia walaupun bekerja tapi bossnya tidak streng, jadi jam 12 siang sambil mengunyah makan siang, dia bisa menonton buset, tangkep, puser, preteli dsb di tipi… dan mengambil hikmah dari tontonan tipi yang kabarnya bermanfaat itu…
Dan kakak saya memang menganggap show dari satpol pp memang indeed edukatip!!!
Desember 19th, 2007 at 5:31 pm
Keamanan untuk berfantasi sexual itu mahal sir! Misalnya nih mau ML di ruang terbuka atau di kolam renang? Sewa private villa Jadi aman kaga bakalan ada yang berana ganggu karena kita bayar mahal termasuk bayar gangguan2x yang mungkin terjadi seperti satpol pp itu. Jadi kalau Hotel melati murah tapi resiko ditanggung penumpang.
Tapi eke nggak pernah tuh takut di hotel melati karena hasrat mengalahkan akal sehat hahahahaha! Mau beli privasi murah di negeri ini? Yeah RITEâ„¢
Desember 19th, 2007 at 5:32 pm
salam kenal,
petugas harusnya bisa bersikap lebih bijaksana dlm melakukan razia kayak gitu, mungkin dengan memberi pengumuman dulu (lho, namanya bukan razia donk…)
pokoknya nggak mau tahu, pokoknya mereka harus sopan, biarpun anak muda (kuliahan), ada juga yang sudah menikah kan..