Bukan Perempuan Biasa?

Written by temukonco on Senin, 25 Desember, 2006 – 10:40 pm

Dalam rangka Hari Ibu, sebuah majalah mingguan menurunkan laporan utama yang berjudul Bukan Perempuan Biasa. Laporan utama tersebut juga didukung dengan cover majalah yang menampilkan sembilan orang perempuan dengan pakaian yang berbeda-beda yang nampaknya bertujuan untuk menggambarkan apa saja latar belakang aktivitas tokoh-tokoh perempuan tersebut.

Tidak hanya itu, majalah ini juga mencantumkan tulisan yang kurang lebih bebunyi seperti ini:

“Mereka yang berani meruntuhkan tembok stereotip. Tak segan melintas batas. Inilah kado untuk perempuan Indonesia.”


Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyalahkan apa yang dijadikan oleh majalah tersebut sebagi Laporan Utama. Akan tetapi saya hanya ingin menyampaikan dan menggambarkan bagaimana sesungguhnya Perempuan yang “Bukan Perempuan Biasa” yang selama ini ada dipikiran saya setiap kali negara ini merayakan dan men-selebrasi-kan “Hari-hari Perempuan” yaitu Hari Kartini dan Hari Ibu.

Perempuan Biasa

Melihat apa yang disuguhkan majalah mingguan tadi, gambaran yang saya tangkap adalah seorang perempuan dianggap sebagai “Bukan Perempuan Biasa” ketika mereka mereka telah melakukan pencapaian tertentu di bidang yang umumnya hanya dilakukan oleh laki-laki. Misalnya menjadi kepala daerah, menjadi pendaki gunung, menjadi seorang pekerja di rig, menjadi angkatan di militer, pilot, ilmuwan penjelajah gua kapur, dokter otopsi, dan lain sejenisnya.

Pertanyaan saya adalah,”Apa yang begitu istimewa dari hal-hal tersebut di atas sehingga apabila seorang perempuan jika bisa mencapai hal tersebut lantas dianggap sebagai seorang yang bukan perempuan biasa?”

Apa istimewanya seorang perempuan yang menjadi kepala daerah? Apakah karena yang bersangkutan perempuan?

Apa istimewanya seorang perempuan yang menjadi pendaki gunung? Karena dia perempuan?

Seorang perempuan bekerja di bidang militer, apa istimewanya? Karena perempuan?

Jadi apabila seorang perempuan bisa berada dalam posisi yang biasanya dilakukan oleh laki-laki maka baru dia dianggap “Bukan Perempuan Biasa”?

Berarti para perempuan yang melakukan hal-hal yang sudah lumrah dilakukan oleh perempuan hanya dianggap perempuan biasa saja?
Ah, mungkin ada yang menyela dan mengatakan bahwa yang membuat mereka “bukan perempuan biasa” adalah bukan karena mereka perempuan akan tetapi karena achievement alias pencapaian yang telah mereka lakukan.

Kalau masalah pencapaian, lantas apakah perempuan yang kebetulan menjadi ibu rumah tangga serta tidak memiliki pekerjaan professional di luar rumah, sehingga beliau tidak menjadi kepada daerah, tidak menjadi tentara, tidak menjadi pendaki gunung, tidak menjadi dokter otopsi, dan lain sebagainya “hanya” dianggap sebagai perempuan yang biasa-biasa saja?

Saya yakin tidak demikian adanya. Jadi apa sebenarnya yang menjadikan perempuan-perempuan tersebut bisa dianggap “Bukan Perempuan Biasa”?

Bukan Perempuan Biasa

Ketika mendengar kata Bukan Perempuan Biasa, maaf sekali apabila yang tergambar di benak saya sama sekali bukan perempuan yang menjadi pilot, tentara, polisi, bupati, atau presiden sekalipun. Benak saya juga sama sekali tidak terbayang Glen Close yang berperan jadi seorang pimpinan dalam “Devil Wears Prada”.

Perempuan yang benar-benar “Bukan Perempuan Biasa” yang ada dalam gambaran saya adalah simbok-simbok buruh gendong di pasar-pasar tradisional yang sudah terjaga di dini hari demi menunggu mobil-mobil yang membawa muatan barang-barang yang akan didagangkan di pasar.

Juga perempuan-perempuan yang dari dini hari telah berangkat dari pinggiran-pinggiran kota baik itu dengan berjalan kaki maupun sambil menuntun sepeda onthel-nya membawa barang-barang yang akan dijual ke pasar di kota.

Atau perempuan-perempuan yang berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya melewati bebatuan yang terjal dan tajam demi mencari dan membawa pulang air bersih.

Tidak lupa juga perempuan-perempuan yang bekerja keras membanting keringat menjadi buruh pengangkut batu, buruh bangunan, dan buruh cuci pakaian di kampung-kampung.

Para Tenaga Kerja Wanita yang dikirim ke luar negeri selama berbulan-bulan dan terpisah dari keluarga mereka, juga saya anggap sebagai “bukan perempuan biasa”.

Mereka saya anggap “bukan perempuan biasa” bukan karena alasan mereka melakukan hal-hal yang maskulin (seperti misalnya menjadi buruh), atau karena mereka berani pergi ke tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka (seperti misalnya menjadi TKW).

Bagi saya mereka adalah perempuan-perempuan yang “Bukan Perempuan Biasa” karena kebanyakan dari mereka yang melakukan hal-hal tersebut di atas tidak memiliki banyak pilihan lain yang lebih baik dalam rangka menjalani dan mengisi kehidupan mereka.

Kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan yang tidak begitu tinggi, kondisi ekonomi yang memprihatinkan, dan posisi sosial dan politik yang amat sangat terpinggirkan (kalau tidak sedang kampanya pemilu dan pilkada).

Oh iya, saya lupa menyebutkan simbok-simbok tua yang mengumpulkan butiran-butiran beras yang jatuh di tanah di sekitar penggilingan beras atau gudang beras, serta perempuan-perempuan tua yang mengumpulkan melinjo-melinjo yang berjatuhan di pasar tradisional (kebanyakan memang karena dibuang oleh penjualnya karena agak busuk) untuk kemudian dijual kembali atau dimasak sendiri di rumah.

Memang kalau dibandingkan dengan bupati perempuan, angkatan udara perempuan, perempuan yang bekerja di rig, dan lain sebagainya, memiliki pencapaian di bidang ekonomi, sosial, dan juga politik yang jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan-perempuan tadi.

Akan tetapi satu hal yang perlu diperhatikan, buruh perempuan, TKW, perempuan pedagang yang commute dengan alat transportasi sendal jepit atau sepeda onthel, perempuan pencari air, dan lain sejenisnya ini sangat sering berada dalam kondisi “tanpa pilihan lain” sehingga harus melakukan hal-hal seperti ini.

Bandingkan dengan perempuan-perempuan yang sudah menjadi orang gedean dan kemudian didhapuk menjadi “Bukan Perempuan Biasa”.

Seorang bupati perempuan masih memiliki banyak pilihan sekalipun ketika pilkada beberapa waktu yang lalu beliau tidak terpilih (ini cuman misalnya lho ya) maupun ketika beliau sudah tidak menjabat lagi kelak.

Dengan kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki, beliau masih memiliki pilihan sebagai PNS, pegawai swasta, anggota dewan, pengurus parpol, wartawan, atau apapunlah, yang jelas tidak terpaksa memilih untuk terjaga pada dini hari di pasar demi menunggu mobil-mobil yang datang dari luar kota membawa muatan penuh kubis dan sawi putih lalu berebutan untuk memperoleh kesempatan menggendong muatan tersebut satu demi satu guna memperoleh upah secukupnya.

Kondisi ekonomi serta rendahnya tingkat pendidikan yang paling sering menjadikan kondisi seperti ini, sehingga mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa lebih meng-aktualisasi-kan diri seperti halnya sesama kaum mereka yang sudah bisa jadi “orang gedean”.

Hebatnya, dalam kondisi demikian mereka masih bisa bertahan hidup dan tetap menjalani kesehariannya dengan tangguh.

Dengan fakta-fakta seperti itu, sangat masuk akal bukan apabila saya menganggap perempuan-perempuan perkasa versi saya inilah yang benar-benar “Bukan Perempuan Biasa.”

Tags: ,
Posted under indonesia, sejarah |

3 Comments to “Bukan Perempuan Biasa?”


  1. Citra Larasati Says:

    wah..wah… bung Iwan ini memang pecinta wanita…

    hehehehehe…..

    kalau saya termasuk perempuan biasa atau luar biasa nih bung..?:P

  2. Mikrolet Says:

    Up..up..up..
    Perempuan yg dianggap biasa memang kadang dianggap luar biasa bahkan mungkin sebaliknya. Yang penting kalo menurut saya dia bisa atur waktu & tidak meninggalkan kewajiban sebagai istri itu udh cukup. oh ya kutipan diatas Bagus !

  3. mikrolet Says:

    Karna bung iwan pria maka dari itu harus mencintai wanita..
    begitu pula dengan pria normal lainnya. Nah Mbak Citra ini pencinta pria bukan??
    Sekarang mau tanya kalo waRia itu mencintai & dicintai siapa ya?? hahahaa..Mohon pencerahannya ya !

Leave a Comment