Kultus Individu

Written by temukonco on Minggu, 10 Desember, 2006 – 11:08 am

Sudah berapa kali orang-orang Indonesia menjadi korban dari tindakan mereka yang mengkultuskan seseorang atau sesuatu secara berlebihan. Dulu jaman awal-awal merdeka, kita mengkultuskan presiden pertama kita. Setelah bertahun-tahun berlalu dan sedikit demi sedikit terbukti kalau yang bersangkutan –karena masih manusia– juga bisa punya kesalahan, maka berbondong-bondong pada menghujat, mendemo, mengasingkan, dan bahkan mencela-cela sampai seolah-olah beliau sama sekali tidak pernah berbuat baik pada masa lampau.

Lalu datang pengganti presiden pertama ini yang tidak berapa lama juga mulai menarik simpati masyarakat luas. Kemudian kembali fase kultus-kultus-an itu muncul lagi, permainan yang sama dengan pemain yang berbeda. Dari mulai fase memuja-muja setinggi langit sampai akhirnya menghujat-hujat seheboh mungkin.

Herannya, semakin besar bilangan tahun, semakin beragam tindakan kultus-kultus-an itu. Pernah seorang kawan yang sedang KKN di sebuah pedesaan di Jawa Tengah pada waktu beberapa bulan setelah PEMILU ditanya oleh pemuda-pemuda desa tempat dia KKN. “Mas, kemaren PEMILU nyoblos apa Mas?”

“Wah saya ndak nyoblos tuh Mas, waktu PEMILU kemarin.” Jawab teman saya terus terang.

“Kok ndak nyoblos to Mas? Dosa lho… Kan Mas beragama A to? Kalo beragama A itu ya harus nyoblos Partai Ember Mas… Kalo nyoblos Partai lainnya, apalagi ndak nyoblos kayak Mas ini, bisa masuk neraka lho…”

“Oh gitu to? Yang ngasih tau siapa itu?”

“Yang ngasih tau ya Pak Juwawut pas kampanye itu, beliau kan orang terpandang di desa ini Mas…”

“…” Diam seribu bahasa, bingung mau tertawa geli, marah karena ada omongan yang asal, atau nangis karena pemuda-pemuda ini dengan suksesnya diakal-akali.

Contoh di atas baru potongan kecil kondisi masyarakat kita yang mungkin karena kurangnya memperoleh pendidikan politik di lembaga pendidikan formal maupun yang dilakukan oleh Partai Politik (ngomong-ngomong emang sekarang ada Partai Politik yang ngasih pendidikan politik?)

Itu tadi contoh bagaimana peng-kultus-an terhadap individu, organisasi, dan partai telah disalahgunakan dengan seksama.

Kultus Individu Ulama

Itu baru di dunia politik, belum lagi di dalam kehidupan beragama yang memang sangat besar kemungkinan munculnya kultus-mengkultuskan itu.

Masyarakat kadang-kadang menutup mata pada kenyataan bahwa bagaimanapun kondangnya, berkharismanya, cerdasnya, sabarnya, menyejukkannya, tampannya, gaulnya, seringnya ngasih dakwah dimana-mana, tingginya biaya yang dikeluarkan untuk menghadirkannya dalam sebuah pengajian, dan berkali-kali mengisi iklan layanan masyarakat yang dilakukan oleh seorang ulama (atau yang mengaku demikian dan/atau yang diakui media demikian), dia tetap manusia ciptaan Tuhan yang tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang mengecewakan manusia lain, terlepas tindakannya itu benar atau tidak.

Parahnya, pihak-pihak yang dikultuskan itu sangat jarang sekali memberikan pengertian pada masyarakat tentang betapa tidak baiknya pengkultusan itu. Padahal dalam kenyataan, tidak jarang masyarakat terlalu meletakkan seseorang di level yang lebih tinggi dari yang seharusnya diletakkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika seseorang itu –karena dia masih manusia juga– melakukan hal yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat yang meng-kultuskannya, terjadi kekisruhan. Mereka gempar, terpukul, kecewa, dan bahkan berbalik mencela dan menghujat tokoh yang bersangkutan.

Masyarakat yang mengkultuskan seseorang tersebut guncang, merasa dibohongi, merasa tidak percaya lagi, merobek-robek gambar yang ada di koran, menurunkan dan mencabik-cabik poster yang ada di dinding kamar, serta tidak menghadiri pengajian rutin yang dilakukan ulama yang bersangkutan.

Kalau kejadian seperti ini, baru memberikan tanggapan dan penjelasan bahwa sesungguhnya pihak yang dikultuskan itu adalah manusia biasa juga yang tidak luput dari salah, lupa, dan tindakan-tindakan yang mungkin mengecewakan orang lain. Oalah Mas… kemaren-kemaren ke mana aja…? Apakah terlalu sibuk membangun image sebagai orang suci sehingga melupakan bahwa ada orang-orang awam yang harus diberi pengertian dan pemahaman yang mendalam karena mereka sukar membedakan apakah anda ini seorang malaikat atau seorang manusia?

Kok ya ndak pernah kapok-kapok selalu terjebak ke dalam kubangan yang sama seperti itu to?

Untung saja kegemparan massal yang berkaitan dengan ulama tersebut terjadi ketika ulama tersebut masih hidup dan sehat, sehingga walaupun ada yang merasa perih dan sakit hati (saya lihat di televisi sampai ada yang menangis), mereka bisa tersadar bahwa yang selama ini mereka puja-puja ternyata juga cuman manusia biasa. Tidak lebih tidak kurang.

Coba bayangkan jika kejadian ini tidak pernah terjadi, ulama yang bersangkutan kian kondang dan terkenal, pengikutnya semakin banyak, dan sampai pada suatu saat ulama tersebut dipanggil Yang Maha Kuasa, saya membayangkan jangan-jangan makam ulama yang bersangkutan jadi tempat keramat yang sering digunakan untuk minta rejeki, jodoh, kelancaran karir, dan lain sebagainya seperti yang sering terjadi pada kuburan-kuburan keramat lainnya di negeri ini. Ah, mungkin ini adalah sisi baik yang bisa kita ambil hikmahnya.

Dan semoga ini bisa dijadikan contoh oleh ulama-ulama lain agar tidak terlalu sibuk membangun imej suci bagi diri mereka sendiri, tapi perlu juga mendidik masyarakat umum agar tidak perlu mengkultus-kultuskan seseorang lagi dan mulailah memandang seseorang secara logis dan obyektif.

Dan untuk masyarakat luas –walaupun saya tidak yakin ucapan ini akan didengar apalagi berefek luas– saya cuman ingin bilang, “Sadarlah, pemujaan terhadap siapapun atau apapun yang selain Tuhan secara berlebihan itu menyesatkan dan amat sangat tidak sehat…”

Tags:
Posted under opini |

Leave a Comment