Merdeka
Written by temukonco on Jumat, 18 Agustus, 2006 – 1:55 amHow do you rise up against a system that appears to provide you with your home and car, food and clothes, electricity and health care….How do you muster the courage to step out of line and challenge concepts you and your neighbors have always accepted as gospel, even when you suspect that the system is ready to self-destruct?(John Perkins, 2004, Confessions of an Economic Hit Man, San Francisco, Berrett-Koehler Publishers Inc, hal. 217)
Kalimat di atas adalah kutipan dari buku John Perkins yang akhir-akhir ini jadi naik daun karena bukunya yang berjudul Confessions of an Economic Hit Man yang terbit pada tahun 2004.
Buku ini konon kabarnya –karena saya belum baca, ada yang punya? Saya boleh dong pinjam… –berisi pengakuan seorang Economic Hitman (saya ingin meng-Indonesia-kan istilah ini tapi kok nampaknya jadi wagu ya? Ah sebaiknya tidak usah saja ya) yang dibayar tinggi oleh Amerika untuk membuat negara-negara yang memiliki kekayaan minyak bumi (dan saya yakin juga kekayaan alam lainnya juga diperhitungkan deh..) agar dapat memperoleh hutang sebanyak-banyaknya dari Amerika baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui lembaga-lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF.
Pemberian hutang itu dilakukan sedemikian rupa hingga sampai pada suatu titik negara-negara penghutang tersebut tidak mampu membayar hutang yang segede-gede gaban tersebut.
Apabila kondisi ini telah tercapai, maka negara yang bersangkutan telah masuk perangkap “the global empire” yang menjadikan “”Keamanan Nasional Amerika” terjamin.
Akan tetapi jika keadaan tersebut tidak tercapai karena mungkin negara yang bersangkutan ngeyel, maka jalan terakhir yang ditempuh adalah dengan cara melakukan invansi militer terhadap negara itu, contoh kasusnya adalah Panama pada tahun 1989 dan Irak pada tahun 2003.
Ada yang berpendapat bahwa buku ini sekedar buku teori konspirasi yang sukar dipertanggungjawabkan kebenarannya, akan tetapi terlepas dari buku ini sekedar konspirasi atau tidak, gambaran kondisi hubungan perekonomian negara-negara lain dengan Amerika kurang lebih tergambar di sini.
Kita lihat bagaimana World Bank dan IMF terus menerus memberikan bantuan berupa hutang pada negara-negara lain. Dan kita lihat juga bagaimana beberapa tahun kemudian IMF dan World Bank dengan mudahnya memberikan “masukan-masukan”, “syarat-syarat”, dan “catatan-catatan” kepada negara penghutang yang secara langsung mempengaruhi kebijakan ekonomi negara tersebut. Semuanya biasanya disertai dengan kata-kata manis: “Untuk mempercepat liberalisasi ekonomi” atau “Untuk semakin mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas” atau apapun lah yang kurang lebih senada dengan kalimat tadi.
Dan tidak jarang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara penghutang berdasarkan masukan-masukan dari IMF dan/atau World Bank itu berdampak pada dikorbankannya kepentingan nasional negara yang bersangkutan.
Graham Bird (Sritua Arief; 1998) pernah melakukan penelitian pada 90 negara yang mengikuti anjuran IMF, dan dari sana ia memperoleh kesimpulan bahwa: Pertama, setiap negara yang menjadi kreditor IMF akan selalu tergantung pada IMF bahkan terjerembab dalam siklus hutang yang tidak bisa putus.
Kedua, karena ketergantungan itulah makan negara yang menjadi kreditor IMF akan selalu memberikan beban hutang dari generasi ke generasi.
Ketiga, program pemecahan ekonomi IMF selalu bertolak belakang dari pemecahan defisit perkiraan berjalan dalam neraca pembayaran dan peningkatan arus modal uang.
Keempat, kenyataan menunjukkan bahwa defisit perkiraan berjalan justru parah dan ekspor tidak mampu mengimbangi impor.
Dan kelima, akibat pendekatan moneteris dan fiskal menyebabkan hubungan IMF dengan negara berkembang tidak membantu, tapi lebih banyak terjadi IMF malah membantu ekspansi negara maju.
Dan dengan kondisi demikian, dengan jujur harus diakui bahwa negara-negara penghutang tersebut sudah tidak lagi memiliki kemerdekaan ekonominya sendiri.
Kemerdekaan Indonesia
Tanggal 17 Agustus kemarin kita Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan kita yang ke-61. Selain pemandangan umum tahunan yang kita lihat di mana-mana, di mana hampir seluruh anggota masyarakat ikut berpartisipasi memeriahkan kemerdekaan ini dengan berbagai macam cara, ada pula sebagian orang yang kembali menanyakan makna (halah… makna…) Kemerdekaan Indonesia ini. Pertanyaan besar yang hampir setiap tahunnya tercetus baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan dari beberapa orang masih saja selalu sama. “Apakah benar kita sudah merdeka?”
Mungkin kalau definisi kemerdekaan adalah tidak ada lagi tentara-tentara Kompeni, Nippon, KNIL, dan Belanda yang petentang-petenteng di jalanan sambil bawa-bawa senjata dan menuding-nuding kita orang Indonesia dengan kasar sambil bilang, “Kowe orang ini ekstrimis heh!?”. Tentu saja kita sudah merdeka, jangankan mereka berani petentang-petenteng, lha wong beberapa waktu yang lalu ada mahasiswa-mahasiswa dan kelompok pemuda yang malah berani melakukan razia terhadap orang asing di kota-kota mereka kok.
Namun kalau kita merujuk pada apa yang diceritakan (jika ini dianggap sebagai teori konspirasi biasa saja) oleh John Perkins, maka ada kemungkinan –dan bisa jadi– kita, Indonesia, sebagai sebuah negara, sedang mengalami penjajahan secara ekonomi.
Bukan rahasia lagi kalau kita sekarang memiliki hutang baik itu dari IMF maupun dari World Bank. Bukan rahasia lagi jika kebijakan ekonomi kita kebanyakan dilatarbelakangi oleh saran-saran dari IMF dan World Bank. Dan bukan rahasia lagi, kebijakan-kebijakan itu berpengaruh sangat besar kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama mereka yang menengah ke bawah.
Untuk melihat contoh-contoh kebijakan tersebut, dapat sama-sama kita amati dari mulai kebijakan impor beras, pencabutan subsidi, penghapusan larangan impor, RUU Ketenagakerjaan, privatisasi BUMN, dan lain-lainnya.
Kalau saya lihat sebenarnya itu bukan saja semakin menghimpit kalangan menengah ke bawah seperti petani, buruh, nelayan, dan sebagainya. Akan tetapi secara tidak langsung kondisi ini menimbulkan kesenjangan ekonomi yang kian melebar antara yang kaya dengan yang miskin.
Jadi, sebenernya saya pengen bilang bahwa, kondisi seperti ini kurang lebih sama dengan kondisi jaman tanam paksa dulu. Ketika pemerintah Belanda memerintahkan tanam paksa, golongan-golongan menengah ke atas pribumi dengan tanpa rasa bersalah memaksa dan menekan golongan para petani untuk melakukan kebijakan dari Belanda itu, dan golongan menengah ke bawahlah yang ketiban apesnya.
Parahnya, kalau jaman dahulu mungkin ada kesadaran komunal primordial dari kalangan menengah ke atas yang terpelajar ketika melihat ketidakadilan berlangsung seperti ini dan kemudian mereka membuat gerakan-gerakan yang menjadi embrio (halah.. bahasa saya aneh..) Gerakan Nasionalisme Indonesia. Akan tetapi pada saat sekarang ini nampaknya sangat sedikit dari kalangan menengah ke atas terpelajar yang tergerak untuk melakukan sesuatu terhadap kondisi ini.
Nampaknya bukan karena tidak adanya kesadaran akan apa yang sedang terjadi, tetapi –mengutip John Perkins– lebih karena kondisi kelas menengah ke atas kita sekarang kurang lebih seperti ini:
“Bagaimana kalian bisa bangkit melawan sebuah sistem yang nampak memberikan kalian rumah dan mobil, makanan dan pakaian, listrik dan jaminan kesehatan… Bagaimana kalian bisa mengumpulkan keberanian untuk keluar jalur tersebut dan menantang konsep-konsep yang selama ini kalian dan tetangga-tetangga kalian terima sebagai suatu kebenaran yang tak terbantahkan, bahkan ketika kalian mulai melihat bahwa sistem itu sedang menghancurkan dirinya sendiri?”
Sebagai penutup, sehubungan dengan masalah Kemerdekaan dan Kedaulatan Indonesia, coba deh periksa Perjanjian Sewa Piranti Lunak Microsoft / Microsoft Software Rental Agreement, pada bagian Syarat dan Ketentuan, Nomer 9 point (e).
Saya orang yang sangat awam hukum jadi ketika saya membaca bagian tersebut yang langsung terpikirkan oleh saya adalah: Ternyata Negara Indonesia adalah bagian dari Negara Bagian Washington, Amerika Serikat.
Maaf, ini cuma logika saya yang tidak begitu paham hukum, kontrak, perjanjian, dan sejenisnya. Kalaupun misalnya logika saya itu salah, saya mohon maaf dan mohon diberi pengertian.
MERDEKA BUNG !!!
Posted under indonesia, sejarah |
Subscribe to my blog using RSS