Gempa
Written by temukonco on Saturday, 27 May, 2006 – 10:07 pmPagi itu ada Bapak saya menerima telpon dari Jogja. Ternyata dari adik saya yang mengabarkan bahwa baru saja terjadi gempa. Beberapa genting terjatuh, plafon juga jatuh, dan yang parah tembok pagar bagian belakang rumah roboh. Untunglah (kultur Jawa yang membanggakan, dalam setiap musibah masih bisa melihat sisi “untung”-nya) robohnya ke arah luar di kebun Pohon Melinjo yang luas dan sepi, bukan ke arah dalam –ke arah rumah.
Saat itu saya cuma berpikir bahwa gempa yang terjadi lumayan besar sehingga mampu merobohkan tembok yang lumayan sudah rapuh dan lumutan itu. Namun ternyata tidak demikian, beberapa menit kemudian beberapa sms dan telpon baik di handphone maupun telpon rumah datang silih berganti dari sanak saudara dan handai taulan. Sementara saluran telepon setelah adik saya menelpon tadi sama sekali tidak bisa tersambung ke Yogyakarta hingga malam hari.
Ternyata gempa yang terjadi cukup besar. Bantul, Klaten, Prambanan, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan beberapa daerah sekitarnya, semua terkena dampak yang mengerikan.Akhirnya, kami baru bisa mengetahui keadaan yang terjadi. Seperti tidak percaya, tapi yang kami saksikan itu siaran berita bukan sinetron yang mengada-ada atau reality show yang kadang kala hyper-realitas itu.
Rasanya seperti baru kemarin melewati terminal Palbapang, seperti baru beberapa hari yang lalu melintas di depan kampus ISI Yogyakarta, seperti baru tadi malam mencari shampoo dan sabun mandi di Diamond, dan seperti belum ada satu bulan saya mengundurkan diri dari gedung kantor itu.
Namun sekarang semuanya sudah berubah, kami yang jauh di seberang pulau hanya bisa membantu doa dan memberikan beberapa barang yang mungkin jumlahnya tidak seberapa namun insya Allah kami ikhlas.
Beberapa hari kemudian ada sms dari seorang kawan di Jogja bunyinya:
“Bung, semenjak situ ke Kalimantan, di Jogja kok ada aja bencana to? Ya Merapi, ya gempa… Mbok situ kembali aja ke sini to…”
Kawan, saya sama sekali tidak yakin kepergian saya dari Jogja ke Kalimantan ada hubungannya dengan bencana-bencana ini. Tapi andai saja –andai saja– memang ada hubungannya dan andai saja –andai saja– saya bisa tau sebelumnya, percayalah saya tidak akan meninggalkan Jogja.
Turut berduka cita yang mendalam untuk korban gempa di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Mungkin kata tidak mampu menyembuhkan luka, tulisan tidak mampu mendirikan bangunan, bantuan dan sumbangan dari kami mungkin hanya seperti sesendok garam bagi lautan apabila dibandingkan bantuan dan sumbangan dari LSM, Organisasi Kemanusiaan, dan mungkin Pemerintah. Tapi percayalah, kami juga merasakan sakit yang sama, merasakan sedih yang sama, dan semoga kita bisa sama-sama kembali makaryo, nyambut gawe rame-rame karo kanca-kancane
Posted under yogyakarta |
Subscribe to my blog using RSS