Diary Pemoeda Djaman Doeloe
Written by temukonco on Kamis, 7 Juli, 2005 – 11:43 amJudul: Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Terbitan: Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta, 2005.
Halaman: xxx + 385
Dimensi: 15,5 cm x 23 cm
Sebenarnya buku ini ada jauh sebelum ada trend mem-buku-kan catatan harian seseorang (Indonesia) di Indonesia. Bahkan, sesungguhnya naskah yang lengkap dan siap cetak dari catatan harian Soe Hok Gie ini telah ada pada tahun 1972. Akan tetapi karena satu hal dan lainnya, maka baru bisa dicetak pertama kali pada tahun 1983, itupun dengan tercecernya beberapa bagian dari catatan harian tersebut (hal. 3).
Sebelum edisi terbaru, sebenarnya buku Catatan Seorang Demonstran ini telah dicetak enam kali sejak Mei 1983 hingga cetakan keenam Agustus 1993. Memang ada rentang yang relatif lama hingga terbitnya cetakan ketujuh pada bulan Mei 2005 ini dan mungkin buku ini menurut saya tidak akan terbit sampai cetakan ketujuh sekarang ini jika Mira Lesmana tidak membuat film tentang tokoh ini.
Agak skeptis mungkin, tapi agaknya generasi sekarang yang lahir sekitar tahun 80-an ke atas kurang akrab dengan tokoh satu ini karena yang biasanya dikenalkan dalam pelajaran sejarah tentang tokoh/pahlawan angkatan ‘66 hanyalah Arief Rahman Hakim bukan Soe Hok Gie. Ditambah dengan gaya bahasa yang ditulis di buku harian ini sangat jauh dari gaya masa kini walaupun sudah ada penyesuaian di sana-sini dari segi ejaan. Belum lagi adanya jeda yang cukup lama dari cetakan sebelumnya -sampai lebih dari 10 tahun- membuat semangat yang dibawa buku ini tidak sekuat dahulu.
Bagi yang pernah membaca dan memiliki buku ini dari cetakan-cetakan tahun sebelumnya mungkin agak heran atau mungkin terkejut dengan tampilan terbaru buku ini. Perubahan yang menonjol adalah dari sisi cover buku ini yang jauh berbeda ukuran, desain, dan perwajahannya jika dibandingkan dengan edisi tahun 1993. Perubahan ini masih ditambah lagi dengan adanya logo A-Mild pada bagian kepala cover dan tulisan tambahan pada bagian judul buku yang berbunyi: Buku yang menjadi inspirasi film layar lebar GIE produksi miles films.
Perubahan lain yang terdapat pada buku ini adalah adanya catatan-catatan tambahan dari Mira Lesmana sang produser film GIE dan dari Riri Reza sang sutradara film GIE pada bagian awal buku, serta adanya beberapa foto-foto tambahan pada bagian akhir sebelum lampiran yang diambil dari film GIE yang tentu saja lengkap dengan Nicholas Saputra-nya.
Melihat adanya perubahan-perubahan dari segi fisik maupun isi buku ini jika dibandingkan dengan cetakan terdahulu, wajar saja apabila timbul anggapan kuat bahwa terbitnya buku ini adalah sekedar salah satu cara untuk semakin mendukung promosi film GIE yang beberapa waktu lalu dirilis.
Terlepas dari latar belakang diterbitkannya sebuah buku yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak dicetak ulang lagi ini serta tambahan-tambahan yang melekat padanya, isi buku yang berbentuk catatan harian ini tidak banyak berubah. Dimulai dari masa pra-remaja (usia 16 tahunan sudah mengenal Andre Gide, Shakespeare, Rabindranath Tagore, dan masih banyak lagi. Siapa yang kita kenal dan karyanya kita baca ketika kita 16 tahun?) ketika aktif dalam gerakan mahasiswa lengkap dengan aksi-aksi demonstrasinya, ungkapan kekecewaannya atas tindakan pembantaian ratusan orang yang terjadi pada era pasca-G30S/PKI yang mengatasnamakan Tuhan dan/atau Pancasila (hal.186), juga kekecewaanya terhadap perubahan sikap orang-orang yang dulu berjuang bersamanya, hingga catatan beberapa hari sebelum ia mendaki Semeru dan meninggal di sana.
Namun seperti yang dikatakan R.Z. Leirissa, hanya sedikit catatan-catatan yang menceritakan masa perjuangannya di tahun 1966 dan mungkin ini adalah bagian dari catatan-catatan yang hilang ketika naskah ini hendak diterbitkan (hal. 368). Walaupun demikian, para pembaca masih dapat menangkap bagaimana perkembangan dan pertumbuhan seorang Soe Hok Gie baik itu pola pikirnya, pergaulannya, sepak terjangnya, serta perasaannya.
Ada sebuah catatan kecil dari pemikiran Soe Hok Gie tentang konsep kebudayaan yang ada di buku ini ketika ia sedang berdiskusi dengan Ong Hok Ham yang dicatatnya pada tanggal 31 Desember 1962. Di sana dia menulis: “Lihat di Irian Barat, telanjang, bercawat, tidak ada kebudayaan.” (hal.109)
Nampaknya waktu itu Soe Hok Gie masih terpengaruh ide yang berpendapat bahwa hal-hal yang masih primitif itu adalah hal-hal yang belum mengenal atau tersentuh oleh kebudayaan. Konsep yang sudah ketinggalan jaman pada waktu itu sebenarnya. Semoga saja pendapatnya ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Terlepas dari itu semua, apa yang ada di buku ini “jika kita adalah pembaca yang tangguh“ bisa memberikan “pencerahan” pada diri para pembaca itu sendiri pada umumnya terutama dalam mensikapi kondisi negara kita sekarang ini yang ternyata tidak banyak berbeda jika dibandingkan dengan masa-masa Soe Hok Gie hidup.
Posted under buku, sejarah |
Subscribe to my blog using RSS